*Terapis Berburu Ilmu Deteksi SEDIA di Kota Malang*
Oleh: Qi Jawara
Kota Malang: Pagi itu terasa berbeda. Ahad, 15 Februari 2026, udara sejuk seolah menyambut langkah para terapis yang datang dari berbagai penjuru daerah. Ada yang menempuh perjalanan berjam-jam, meninggalkan keluarga dan rutinitas, demi satu tujuan: menjemput ilmu yang diyakini mampu membuka tabir tubuh dan energi manusia.
Di sebuah ruang yang sederhana namun sarat makna, Ezo Co-Working Space, Jalan Dewandaru 68, para terapis berkumpul. Wajah-wajah lelah dari perjalanan jauh perlahan berubah menjadi sorot mata penuh harap. Mereka hadir untuk mengikuti pelatihan yang disebut banyak peserta sebagai spektakuler: ilmu diagnosa energi Self Energy Diagnostic (SEDIA).
Ilmu ini bukan sekadar teknik. Ia adalah cara membaca pesan-pesan halus dari tubuh dan energi. Mendeteksi kelemahan organ, gangguan energi pada klien, baik yang bersifat medis maupun nonmedis. Bahkan, cakupannya melampaui tubuh manusia. Lokasi rumah, tempat usaha, hingga benda-benda bertuah pun diyakini dapat "dibaca" melalui pendekatan ini.
Di sela sesi, suara lirih namun mantap datang dari seorang peserta asal Madura. Bunda Fatin, dengan mata berbinar, menyampaikan kesan mendalamnya.
"Ilmu ini luar biasa sekali, dan tidak ada kaitannya dengan ilmu perdukunan," ujarnya. Kalimat sederhana itu menggambarkan kelegaan, bahwa yang dipelajari adalah ilmu, bukan stigma.
Hal senada diungkapkan Pak Sumardiono, praktisi asal Sidoarjo. Baginya, SEDIA bukan untuk menggantikan ilmu yang telah dimiliki, melainkan menyempurnakan.
"Ilmu SEDIA ini sebagai tambahan dalam diagnosa," tuturnya singkat, namun penuh makna.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber utama, Shifu Heri R dari Karawang, Jawa Barat. Dengan pengalaman dan ketenangan khas seorang guru, ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memandu peserta merasakan langsung perombakan energi. Energi negatif dilepas, yang lemah dikuatkan, yang ragu diteguhkan. Peserta offline maupun online merasakan proses yang sama: sebuah reset batin dan energi.
Waktu berjalan tanpa terasa. Dari pukul 09.30 pagi hingga 16.00 sore, ruangan itu menjadi saksi transformasi. Bukan hanya bertambahnya pengetahuan, tetapi juga tumbuhnya keyakinan bahwa terapi sejati berangkat dari energi yang jernih dan niat yang lurus.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Lelah, bahagia, dan harap bercampur menjadi satu. Lalu terdengar yel-yel yang menggema, menyatukan semua perbedaan latar belakang:
"Siapa kita?"
Jawabannya bukan sekadar teriakan, melainkan janji dalam hati, bahwa perjalanan menuntut ilmu ini belum usai, dan harapan akan pelatihan lanjutan telah tumbuh kuat di dada setiap peserta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar